Makalah Kebidanan


BAB I
PENDAHULUAN

       A. Latar Belakang
Selama mengikuti pendidikan UNISKA KENDAL pada tingkat I semester
I mendapatkan mata kuliah Keterampilan Dasar Pratek Klinik Kebidanan Yang merupakan mata kuliah dasar bagi mahasiswa DIII Kebidanan sebagai bekal utama untuk terjun di dunia kesehatan. Untuk itu semua mahasiswa Akademi Kebidanan Uniska Kendal pada tinggat I semester II diharuskan menggikuti Praktek Klinik Kebidanan I ( PKK I ) di lahan praktek di RSUD D r.H.soewondo Kendal selama 6 minggu.

Dengan adanya upaya terjun langsung dilahan praktek mahasiswa dituntut untuk mampu menerapkan ilmu yang diperoleh dari pembelajaran akademik dan mengaplikasikanya pada situasi nyata karena pasien sebagai supjek. Sehingga dengan diadakanya PKK I mahasiswa semakin bertambah ilmunya serta mampu meningkatkan mutu, ketrampilan dan kualitasnya yang kehidupan mendatang mampu menjadi bidan yang professional, terampil dan berakhlak  mulia.

       B. Tujuan  
1. Tujuan Umum
Setelah melaksanakan Praktek klinik KDPK mahasiswa mampu melaksanakan teknik keperawatan sesuai dengan prosedur tindakan yang diterapkan dan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia.
2. Tujuan Khusus
    Setelah melaksanakan Praktek Klinik KDPK mahasiswa diharapkan mampu:   
a.       Mampu melakukan pemeriksaan fisik pada pasien .
b.      Mampu melakukan pemberian obat pada pasien
c.       Mampu melakukan tindakan pencegahan di rumah sakit
d.      Mampu menyiapkan pasien dan mengirim bahan untuk pemeriksaan diagnostik
e.       Mampu menerima pasien baru dan menyiapkan pasien pulang
f.       Mampu memasang NGT, kateter,dan melaksanakan huknah
g.      Mampu mengatur posisi pasien, memindahkan,serta mampu membantu pasien mobilisasi
h.      Mampu memasang dan melepas infus pada pasien
i.        Mampu melakukan asuhan kepada klien yang kehilangan, menghadapi kematian dan setelah kematian

C. Waktu dan Tempat Pelaksanaa
1.  Waktu pelaksanaan
Prantik Klinik Kebidanan I ( PKK I ) dilaksanakan selama 6 minggu,di mulai dari tanggal 21 maret 2011 sampai tanggal 30 april 2011. Hari yang di pergunakan praktek yaitu senin- minggu yang terdiri dari shift pagi, sore dan malam.
2. Tempat Pelaksanaan
    Lahan praktek yang digunakan  adalah di RSUD Dr. H. Soewondo Kendal.
3. Peserta
Mahasiswa semester II Akedemi Kebidanan Uniska Kendal dengan jumlah 25 mahasiswa.

        D. Manfaat
1. Bagi mahasiswa
a.       Mahasiswa dapat menerapkan ilmunya di lahan praktek.
b.      Mahasiswa dapat memperoleh keterampilan dan pengalaman yang lebih selama mengikuti praktek di lapangan.
c.       Mahasiswa dapat membedakan antara tinjauan teori dan praktek di lapangan pada letak perbedaannya.
d.      Mahasiswa juga dapat berpikir secara logis.
e.       Melatih kedisiplinan, tanggung jawab, dan ketelitian.
2. Bagi Rumah sakit
a.       Dapat membantu pekerjaan perawatan.
b.      Dapat membantu paramedic di rumah sakit dalam penyembuhan penyakit.
3. Bagi Institusi    
a.       Peningkatan mutu, kualitas, dan kompetensi mahasiswa.
b.      Pengembangan keterampilan Sumber Daya Manusia.
4. Bagi Pasien
a.       Pasien dapat memperoleh pelayanan dan keperawatan yang memadai.
b.      Pasien memperoleh ketenangan dan kenyamanan.
c.       Mempercepat proses penyembuhan penyakit yang di alami pasien.

        E. Sasaran
Semua pasien yang membutuhkan perawatan dan kebutuhan dasar manusia di Ruang Rawat Inap.

F. Selayang Pandang

    Rumah sakit Kendal sudah ada sebelum kemerdekaan, namun tidak ada
   kepastian tahun berapa Rumah Sakit Kendal didirikan, Sebelum tahun  1933
   diketahui bahwa upaya pelayanan kesehatan bagi masyarakat Kendal dilakukan
   di sebuah Balai Pengobatan yang secara berkala dilayani oleh dokter  Belanda.
   balai Pengobatan tersebut terletak di desa karangsari kecamatan Kendal kurang
   lebih 1 km di sebelah timur lokasi rumah sakit sekarang.

    Pada tahun 1993 Balai pengobatan tersebut dipindahkan kelokasi rumah
               sakit yang sekarang dengan fasilitas lebih luas, terdiri dari 4 lokal yang  sangat
               sederhana dari bahan anyaman bambu dengan luas, kurang lebih 400m2. Tenaga
               dokter satu orang yang sekaligus menjadi pimpinan di RS. Pelayanan kesehatan
   yang dilakukan terdiri dari pelayanan umum,mata dan gigi.

    Di   tahun   awal  kemerdekaan  RI,   RSU  Kendal  sudah   mengalami  pergantian tiga kali kepemimpinan .Pada waktu pertempuran 5 hari di semarang, RSU Kendal menjadi pendukung pelayanan kesehatan bagi pasukan Republik   yang luka-luka dalam pertempuran di semarang.

    Masa class 1, RSU Kendal oleh petugas-petugas Republik, kemudian
               Pemerintah Republik menugaskan dr. Trenggono untk bertugas di Kendal.

                            Pada tahun 1948-1958 dr.H. Soewondo menjadi pimpinan RSU  Kendal
pada masa kepemimpinan dan pengapdianya di  RSU  Kendal banyak hal-hal besar yang telah dilakukan dalam upaya peningkatan kesehatan masyarakat.

                            Pada tahun 50an  Beliau  mempelopori  berdirinya      BKIA-BKIA    di
kendal dan sekitarnya, dengan  tujuan untuk  meningkatkan  kesehatan ibu-ibu terutama ibu hamil dan anak. Keberhasilan dr. H.R. Soewondo dalam upayanya   meningkatkan kesehatan di Kendal, terutama ibu hamil dan anak.

                            Keberhasilan   dr.   H.R.   Soewondo   juga    terlihat   dari   penanganan
               penyakit-penyakit  kekurangan pangan, penyakit menular di daerah Kendal dan
               sekitarnya selain itu masih banyak kegiatan-kegiatan dr .H.R. Soewondo dalam
               upayanya   meningkatkan   kesehatan   di   Kendal,   terutama   masyarakat  dan
               lingkungan.

                            Karena begitu besar pengapdian dan jasa-jasa beliau, maka pada tanggal
               1 Agustus 1987 RSU Kendal dikukuhkan dengan SK Bupati Nomor 400.445-E-
               166-87 dengan nama  RSUD dr. H. Soewondo.

    Dalam  pemenuhan  tenaga   RSUD  dr. H. Soewondo  mempunyai satu
               tenaga  Bidan  dengan  fasilitas  ruang  rawat  inap yang terdiri dari ruang rawat
               wanita, ruang rawat laki-laki, ruang rawat penderita tidak mampu, dimana ruang
               rawat  tersebut  perkapasitas  tidak  lebih  dari  10  tempat tidur, juga ada ruang /
               kamar bersalin namun belum ada ruang operasi.Untuk kasus-kasus bedah/ kasus
               berat langsung dikirim ke semarang karena belum memiliki tenaga ahli maupun
   alat yang memadai.

    Dalam   perkembangannya,   sampai   tahun  80an  RSU  Kendal  belum
               mengalami   pengembangan   yang   berarti   baik   fisik  maupun  pelayanannya.
               Selanjutnya selama kurun  waktu  4  tahun terakhir  ( 1982-1986 )  RSU  Kendal
               mengalami  perkembangan  pesat, baik  pembangunan  sarana  gedung peralatan
               medis, ketenagaan, fasilitas penunjang dan juga pelayanannya.

                            Berdasarkan fasilitas yang dimiliki  RSU  Kendal dan klasifikasi RS di
               Indonesia pada saat itu,  RSU  Kendal  di  kategorikan dalam kelas  D  plus dan
               meningkat menjadi  C  pada  tanggal  30  April  1987 dengn keputusan Menteri
               Kesehatan     RI      Nomor      303/MEN.KES/SK/IV/1987    tentang  penetapan
   Peningkatan  Kelas  Beberapa  Rumah  Sakit  Umum  Pemerintah Kelas C. Pada
   tahun  1998 RSUD dr. H. Soewondo menjadi rumah sakit Swadana Daerah dan
   pada tahun 1999 RSUD dr. H. Soewondo Kendal memperoleh predikat sebagai
   rumah  sakit  daerah  yang   terakreditasi   penuh   dengan   Keputusan   Menteri
   Kesehatan tanggal 12 Maret  1999 Nomor YM.00.03.3.1135 tentang Pemberian
   Status Akreditasi Penuh kepada RSUD dr. H. Soewondo Kendal.

                 Pada  era  Otonomi  Daerah  ( kurang lebih tahun 2000 )  RSUD  dr. H.
   Soewondo    berubah    menjadi  Badan  tanggal    12   Februari    2001   dengan
   ditetapkannya   Perda  Kabupaten  Kendal  Nomor  6  tahun 2001 kami berusaha
   untuk memacu semangat berbenah diri meningkatkan mutu pelayanan kesehatan
   pada   masyarakat,   sarana   maupun   prasarana.  Hal  tersebut  terlihat   dengan
   peningkatan  kepercayaan  masyarakat  yang  diberikan  kepada    RSUD   dr. H.
   Soewondo  Kabupaten  Kendal,   dengan  meningkatkan  kelas      RSUD   dr. H.
   Soewondo  Kabupaten  Kendal  dari  kelas  C   menjadi kelas B Non pendidikan
   berdasarkan  Kepmenkes    RI    tanggal   21  januari  2002   Kepmenkes Nomor
   40/MENKES/SK/I/2002.

                  Pada   tahun    2007    tepatnya    tanggal   28    Desember   2007  telah
   dilaksanakan pelantikan Direktur RDUD dr. H. Soeowondo Kendal berdasarkan
   peraturan  pemerintah  Nomor   41   tahun   2007  tentang  Organisasi  perangkat
   Daerah yang ditindaklanjuti dengan Perda Kabupaten Kendal Nomor   21  tahun
   2007   tentang  Susunan, Kedudukan dan Tugas Pokok Lembaga Teknis Daerah,  
   Unit Pelayanan Terpadu, dan Satuan Polisi Pamong Praja Kab. Kendal.

Badan di RSUD dr. H. Soewondo Kendal
Visi : Pelayanan  prima  didukung  oleh   SDM    yang  professional dan sejahtera,
          sarana dan prasarana memadai serta manajemen yang bermutu tinggi.
            Misi :
·         Meningkatkan professionalisme SDM
·         Meningkatkan kesejahteraan SDM
·         Mengembangkan manajemen pelayanan rumah sakit
·         Mengembangkan pelayanan prima yang terjangkau
Strategi:
·         Strategi pengembangan  SDM
·         Strategi pengembangan  organisasi dan managemen
·         Strategi pengembangan sarana dan prasarana
·         Strategi peningkatan kualitas pelayanan
·         Strategi peningkatan pendapatan rumah sakit


PIMPINAN RSUD KENDAL
 TAHUN 1933-TAHUN 2011
         
NO
TAHUN
NAMA
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.

1933-1939
1939-1943
1943-1944
1945-1947
1947-1948
1948-1958
1958-1963
1963-1965
1965-1966
1966-1977
1977-1978
1978-1981
1981-1986
1986-1994
1994-1995
1995-2000
2000-2007
2007-sekarang

Dr. Durochim
Dr. Muchiman
Bp. Sadiman (YMT)
Dr. Soegiyono
Dr. Trenggono
Dr. H Soewondo
Dr. Soebodro
Dr.Noejati Soeprapto
Dr. Mathori
Dr. Nurheny Hermanto
Dr. Zaenuri
Dr. Y.B Suharto
Dr. Djoko Soediarto
Dr. Bambang Riyanto
Dr. Rasno (YMT)
Dr. Sasmita, MARS
Dr. Hj. Sri Rahayuningsih, MARS
Dr. Yufro Kelana, Sp.D



BAB II
PRAKTIK KLINIK KDPK


            A. MEMBERI O2
                 1. TINJAUAN TEORI   
                     a.Pengertian :
                        Yang  dimaksud  dengan  inhalasi  zat asam  adalah memasukkan zat asam
                        (oksigen) ke dalam paru-paru melalui saluran pernafasan mengunakan alat
                        (Tim Dep Kes RI,1986: 54).
                     b.Tujuan :
         1) Memenuhi    kekurangan   zat asam  pada   pasien  yang dalam keadaan
              Hipoksia / anoksia.
         2) Tidak terjadinya hipoksia misalnya pada penyelam.
         3) Metabolisme berjalan lancar.
    c. Dilakukan pada pasien :
         1) Dengan anoksia, hipoksia, syok,dyspnoe,sianosis,coma.
         2) Dengan kelumpuhan alat-alat pernapasan.
         3) Selama narcose umum.
         4) Trauma paru-paru.
    d. Persiapan alat :
         1) Tabung zat asam diatas alat pendorong beroda dengan :
              a) Manometer ( untuk mengetahui isi O2 dalam tabung ).
              b) Botol pelembab ( humidifier )yang sudah diisi dengan agua deslata/
                  air matang.
              c) Pengukur aliran ( flowmeter ) untuk mengetahui jumlah O2 yang
                  diberikan per menit.
              d) Pipa saluran zat asam.
              e) Kedok zat asam / corong kateter hidung / kanula hidung ganda.
          2) Alat tulis untuk mencatat.
     e. Prosedur Tindakan :
          1)   Memberi tahu dan menjelaskan pada pasien.
          2)   Menempatkan baki berisi alat-alat ke dekat pasien.
          3)   Mencuci tangan.
          4)   Mengatur posisi pasien dan menenangkannya.
          5)   Isi tabung diperiksa dan dicoba.
          6)   Memasang pipa oksigen pada tabung.
          7)   Pipa oksigen dihubungkan pada zat asam / kateter hidung / kanula
          8)   Mengatur volume oksigen sesuai intruksi dokter dengan membuka
                flowmeter.
          9)   Memasang kedok zat asam (kateter hidung)kanula hidung ganda pada
                hidung pasien.
         10)  Mengawasi keadaan hidung pasien / menayakan pada pasien apakah
                sesak hidungnya sudah bekurang.
         11)  Laporkan kepada yang bertanggung jawab.
         12)  Bila pasien tidak memerlukan oksigen lagi, maka aliran oksigen
                Ditutup kemudian melepaskan kanula hidung dari hidung pasien.        
         13)  Merapikan pasien dan membereskan alat-alat.
         14)  Mencuci tanggan. 
        f. Mencatat :
          1)  Keadaan pasien selama, sebelum dan sesudah pemberian O2.
          2)  Indikasi pemberian.
          3)  Waktu pemberian.
          4)  Jumlah pemberian oksigen per menit.
          5)  Nadi,tekanan darah dan pernapasan.
          6)  Nama perawat yang mengerjakan.

    g. Perhatian :
          1)  Hindari api / merokok dekat tabung.
          2)  Harus selalu memakai pelembab udara ( humidifier ) untuk
        melembabkan O2 guna mencegah iritasi selaput lendir alat
    pernapasan.
                          3)  Bila menggunakan kateter hidung, hendaknya diganti tiap 8 jam.
                          4)  Bila menggunakan kedok hidung zat asam harus terpasang betul   
               Sebelumnya diperhatikan apakah tidak tersumbat atau bocor.
          5)  Kedok zat asam harus sering dibersihkan untuk mencegah bau karet.
          6)  Pada bayi-bayi / anak-anak yang memakai O2 melalui corong, mata 
               harus ditutup terlebih dahulu dengan kain kasa lembab yang
               dicelupkan dalam boorwater 3 %.













BAB III
PEMBAHASAN

            Setelah selesai melaksanakan Praktek Klinik Kebidanan I (PKK I) di RSUD Dr. H. SOEWONDO Kendal dari tanggal 21 Maret 2011 s/d  30 April 2011 terdapat Persamaan dan perbedaan antara teori yang telah diperoleh di bangku kuliah dengan prosedur tindakan yang dilakukan di rumah sakit. Ketidaksesuaian antara teori dan praktek di rumah sakit yang sudah dijalankan antara lain dapat dilihat dari beberapa ketrampilan, seperti dalam melakukan tindakan.
 1. Memberikan O2
     Pelaksanaan pemberian O2 di rumah sakit  dengan  prosedur tindakan dalam teori   terdapat   perbedaan.   Dalam  teori  diuraikan   sebelum  melaksanakan  tindakan     perawatan    cuci   tangan  dulu, namun  hal  itu  jarang   dilakukan   karena untuk     mengefisiensikan   waktu. selain itu dalam teori kanule yang digunakan bersifat     disposable (DepKes Ri, 1994 ) namun di rumah sakit satu kanule biasa digunakan     untuk  lebih  dari  satu  pasien  karena  pertimbangan kanul masih bersih dan baru     dipaki sebentar sehingga  kesterilan tidak terjaga.
 2. Memberikan Makan dan Minum Pasien
     Dalam tinjauan teori diuraikan sebelum melakukan tindakan serbet dibentangkan     dibawah  dagu  pasien ( Depkes RI,  1986  ) namun di   rumah  sakit  serbet  tidak         disediakan     karena    keterbatasan   jumlah   serbet   yang   ada  sangat   terbatas     dibandingkan  dengan jumlah pasien yang ada sehingga ada kemungkinan makan dapat mengotori baju pasien dan kebersihan pasien tidak terjaga.
 3. Memandikan pasien Dewasa
     Antara   teori   yang   ada dengan  prosedur  tindakan  di rumah  sakit  masih  ada     perbedaan.  Dalam   teori   disediakan   dua   baskom   masing-masing   berisi  air     hangat  dan  air  dingin  (  Depkes RI,  1994 ) dan prosedur tindakan memandikan     pasien dilakukan secara berurutan dari mencuci muka sampai daerah lipat genetalia. Sedangkan dalam pelaksanaan di rumah sakit baskom hanya disediakan satu  berisi air  hangat  karena  keterbatasan alat yang ada, dan dalam pelaksanaan  memandikan  tidak  dilaksanakan secara berurutan karena untuk mengefisienkan waktu. Namun   demikian perbedaan itu tidak memberikan pengaruh dalam melaksanakan tindakan  memandikan  pasien  sehingga  kebersihan  pasien belum sepenuhnya terjamin.
4. Memandikan Bayi
Dalam pelaksanaan tindakan dirumah sakit dan teori yang ada masih ada perbedaan, dalam teori digunakan dua buah walap dan disediakan handscoon dan clemek namun dalam prakteknya dirumah sakit clemek dan handscoon tidak disediakan dan waslap yang digunakan hanya satu karena keterbatasan alat di rumah sakit, selain itu dalam prakteknya dirumah sakit dalam memandikan bayi hanya dilap saja karena bayi-bayi disana kebanyakan lahir tidak normal tapi hal ini tidak menjadi masalah, karena tidak memandikan bayi tanpa handscoon dan clemek tidak mengurangi fungsi dari memandikan bayi tersebut pasien biasa merasa nyaman bersih dan segar.
5. Membantu Pasien Mobilisasi
Dalam pelaksanaan membantu pasien mobilisai antara teori dan praktek dirumah sakit sudah sesuai baik dalam persiapan alat maupun prosedur tindakan, hanya saja dalam prosedur tindakan sebelum melakukan tindakan perawat jarang cuci tangan dulu karena keburu-buru.
6. Menerima Pasien Baru
Dilihat dari tinjauan teori dan aplikasi dilapangan masih ada perbedaan dalam prosedur tindakan. Dalam teori diuraikan pada saat menerima pasien baru dilakukan tindakan pengukuran tinggi badan (Dep.Kes.RI,1986). Mengingat penyakit pasien yang segera memerlukan tindakan pengobatan medis.
7. Memindahkan pasien
Antara aplikasi penyakit dan tinjauan teori sudah sesuai dimana dalam teori diuraikan pasien dipindahkan dari tempat tidur kebrangkar atau ke kursi roda dan dari brangkar atau kursi roda ketempat tidur oleh petugas (Dep.Kes.RI,1994) dan itu sudah sesuai dengan aplikasi dilapangan.
8. Mengatur Posisi Pasien
Pelaksanaan tindakan mengatur posisi pasien semi fowler di rumah sakit dengan tinjauan teori sudah sesuai.
9. Mengganti Alat Tenun dengan Pasien Diatasnya
Pelaksanaan tindakan mengganti alat tenun dengan pasien diatasnya sudah hampir sesuai dengan prosedur tindakan dalam teori. Hanya saja dalam teori dilakukan pembersihan perlak dan kasur dengan larutan desinfektan (Dep.Kes.RI,1986). Sedang dalam aplikasi belum dilakukan karena untuk mengefisiensikan waktu. Dalam teori juga disediakan stik laken namun dalam prakteknya dirumah sakit jarang dipakai karena jumlahnya terbatas.
10. Mengukur tekanan darah
Antara aplikasi di rumah sakit dan tinjauan teori sudah karena merupakan kegiatan yang tiap hari pasti dilakukan dirumah sakit.
11. Mengukur suhu badan
Mengukur suhu badan dirumah sakit sudah sesuai dengan teori yang ada,





0 komentar:

Posting Komentar